KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM CERPEN YAWM AL-WADĀ’: ANALISIS EKSISTENSIALISME SARTRE PADA KARAKTER MUSTAFA IBRAHIM
Keywords:
NaJib Mahfudz, Prosa Arab, Eksistensialisme, SartreAbstract
Najib Mahfudz, penulis ternama asal Mesir, terkenal dengan karya-karyanya yang menggambarkan kompleksitas pengalaman manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu cerpennya, Yawm al-wadā’ (Hari Perpisahan), mengeksplorasi tema konflik keluarga, keterasingan, dan penyesalan melalui narasi perjalanan eksistensial tokoh utama, Mustafa Ibrahim. Cerpen ini menggambarkan perjuangan eksistensial Mustafa dalam menghadapi kehancuran hubungan dengan istrinya dan anak-anaknya serta pergulatan internal dalam memahami kebebasan dan tanggung jawab.
Penelitian ini bertujuan menganalisis refleksi eksistensial tokoh utama melalui perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre dengan berfokus pada konsep kebebasan, bad faith, dan alienasi. Penelitian ini diajukan melalui dua pertanyaan: (1) Bagaimana konsep kebebasan Sartre tercermin dalam karakter utama? dan (2) Bagaimana elemen bad faith memengaruhi perjalanan karakter dalam memahami makna hidup? Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode analisis deskriptif untuk memahami fenomena dalam cerpen tersebut. Data penelitian diperoleh dari cerpen Yawm al-wadā’ yang diterbitkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Olahraga pada 2017 dan diakses melalui dohamagazine.qa. Data dianalisis dengan kerangka teori eksistensialisme Sartre, terutama konsep kebebasan, bad faith, dan alienasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterasingan Mustafa mencerminkan alienasi yang muncul akibat ketidakmampuannya menjalani kebebasan secara otentik. Konflik pernikahan dan ketidakmampuannya menjembatani perbedaan menyebabkan ia terisolasi, baik dari keluarganya maupun dirinya sendiri. Penyesalan yang dialami Mustafa juga menggambarkan konsep bad faith Sartre, di mana ia sering kali menghindari tanggung jawab dengan menyalahkan faktor eksternal, bukan berhadapan langsung dengan kebebasannya. Selanjutnya, ketegangan antara kebebasan dan tanggung jawab juga menjadi tema utama dalam perjalanan eksistensial Mustafa. Perjuangan untuk menerima kebebasan sambil bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya mencerminkan beban yang harus ia hadapi dalam memaknai hidupnya. Akibatnya, penyesalan, alienasi, dan ketakutan mempengaruhi perjalanan psikologisnya.
References
Akinbode, E. (2023). Jean-Paul Sartre’s Existential Freedom: A Critical Analysis. International Journal of European Studies. https://doi.org/10.11648/j.ijes.20230701.13
Cheng, M. (2023). An Analysis of Sartre’s Existentialism. Philosophy Journal, 2(1). https://doi.org/10.23977/phij.2023.020117
Mohan, Dr. V., & Abraham, S. (2019). Navigating identity crisis: A sartrean perspective on existential philosophy. International Journal of Humanities and Arts, 1(2), 32–34. https://doi.org/10.33545/26647699.2019.v1.i2a.65
Pane, S. H., & Adisaputera, A. (2023). KEBEBASAN INDIVIDU PADA KONTEKS CHILDFREE: KAJIAN EKSISTENSIALISME JEAN-PAUL SARTRE DALAM NOVEL OURS KARYA ADRINDIA RYANDISZA. In Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora (Vol. 2, Issue 3). https://publisherqu.com/index.php/pediaqu
Sutanto, D. N., Mendorofa, M. P., & Apriyanti, T. (2018). The Pursuit of Existential Meaning and Social Justice in Naguib Mahfouz’s Three Short Stories: Zaabalawi, A Day for Saying Goodbye, and The Answer is No. Indonesian Journal of English Language Studies (IJELS), 3(2), 68–78. https://doi.org/10.24071/ijels.v3i2.1066
Widyastuti, A. (2017). The Absurdity Of Being As Reflected In Franz Kafka’s The Metamorphosis Novella (1915): An Existentialism Approach.
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
